Mulia, Kuat dan Kaya

February 9th, 2009 by edey

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany -Pagi hari diMadrasahnya, tanggal 19 Rajab 545 H.
Dari Nabi saw : beliau bersabda:
“Siapa yang senang menjadi manusia paling mulia, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kuat, hendaknya bertawakkal kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kaya hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih dipercaya ketimbang apa yang ada di tangannya. (Hr. Al-Hakim di Al-Mustadrak).

Artinya siapa yang ingin kemuliaan dunia dan akhirat hendaknya bertaqwa kepada Allah Azza wa-Jalla:

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan ada pada ketaqwaan seseorang, sedangkan kehinaan ada dalam maksiatnya. Siapa yang ingin kuat dalam agama Allah Azza wa Jalla hendaknya ia bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, karena tawakal itu membenarkan hati, menguatkan, membersihkan, menunjukan dan menampakkan keajaiban Illahi. Karena itu jangan berserah diri pada uangmu, dinarmu, dan usahamu. Justru itu bisa melemahkan dirimu, karenanya tawakal-lah kepada Allah Azza wa Jalla, karena Allah Ta’ala menguatkanmu, menolongmu dan mengasihimu serta membukakanmu tanpa terduga disamping mengokohkan hatimu.

Jangan peduli dengan datangnya dunia atau perginya dunia dari sisimu. Jangan peduli pula dengan penerimaan (dukungan) atau penolakan makhluk padamu, maka pada saat itulah anda menjadi manusia terkuat.

Bila anda berpegang pada harta, jabatan, keluarga dan nusahamu, maka sama dengan anda menantang murka Allah azza wa Jalla, karena semua itu akan sirna. Disamping tipudaya dibalik semua itu, dimana Allah swt tidak senang ada yang lain selain Allah di hatimu.

Siapa yang ingin kaya dunia akhirat hendaknya betaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, bukan takut pada yang lain. Hendaknya ia bersimpuh di pintuNya, malu bersimpung di pintu selain pintuNya. Seharusnya ia pejamkan mata hatinya untuk memandang selain Dia Azza wa Jalla, namun bukan mata kepalanya.

Bagaimana anda percaya dengan apa yang ada di tangan anda, sedangkan semua itu akan sirna? Sementara anda malah tidak percaya pada apa yang di Tangan allah Azza wa Jalla yang tak pernah sirna? Semua ini karena kebodohan anda pada Allah Ta’ala, lalu beralih ke yang lainNya. Percayamu pada Allah membuatmu cukup, dan percayamu pada selainNya membuatmu fakir.

Wahai orang yang yang meninggalkan ketaqwaan, anda telah diharamkan mendapatkan kemuliaan dunia akhirat.

Wahai orang yang tawakal kepada makhluk dan usaha, anda telah terhalang dari kekuatan dan kemuliaan bersama Allah Azza wa-Jalla dunia akhirat.

Wahai orang yang percaya pada milik kuasanya, anda telah terhalang meraih kaya raya dunia akhirat bersama Allah Azza wa Jalla.

Anak-anak sekalian, jika anda menjadi orang yang bertaqwa, bertawakal dan percaya teguh pada Allah Azza wa Jalla hendaknya anda sabar. Karena sabar itu dasar setiap kebajikan. Bila niatmu benar dalam sabar, maka sabarmu hanya demi wajah Ilahi Azza wa Jalla, maka anda akan dapat balasan berupa cintaNya dalam hatimu, DekatNya padamu dunia akhirat.

Sabar itu berarti berserasi dengan ketentuan dan takdirNya yang telah mendahului pengetahuanmu, dimana tak seorang pun dari makhlukNya bisa menghapus takdir itu.

Hal demikian akan tertanam dalam diri mukmin yang yaqin. Maka sabar atas takdirNya itu memberi kemerdekaan, bukan keterdesakan.

Sabar di awalnya merupakan keterhimpitan, namun langkah berikutnya adalah kebebasan. Bagaimana anda mengaku beriman tetapi anda tidak bersabar? Bagaimana anda mengaku ma’rifat tetapi anda tidak ridlo? Iman dan ma’rifat bukan sekadar pengakuan.

Tidak bisa disebut beriman dan ma’rifat sampai anda memandang gerbangNya, membiarkan celaan dan sabar atas lingkar takdir dan pijakan manfaat dan derita, yang menginjak hatimu, bukan pikiran dan inderawimu, sementara anda tetap di tempat, seperti terbius, jasad tanpa ruh.

Perkara ini diperlukan ketenangan, tanpa gerakan, tersembunyi tanpa harus menghilang dari massa, dimana qalbu, sirr, batin, dan makna anda tidak ada di tengah mereka. Sungguh sudah banyak apa yang saya bicarakan, dan sungguh betapa sedikit yang kalian amalkan. Sudah panjang lebar saya uraikan tetapi anda tak pernah faham. Sudah banyak yang kuberikan, tetapi tidak pernah kalian ambil. Sudah banyak nasehatku tetapi anda tidak mengambil pelajaran.

Betapa keras hatimu betapa bodohnya kamu pada Allah Azza wa Jalla. Jika anda tahu dan beriman pada Pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla, dan jika anda ingat mati serta apa yang ada dibalik kematian, kenapa anda masih berlaku demikian? Bukankah anda telah menyaksikan kematian ayah dan ibumu dan keluargamu? Telah menyaksikan kematian raja-rajamu? Bukankah itu telah menjadi peringatan dan nasehat bagimu dan mengendalikan nafsumu, disbanding upayamu berburu dunia dan cinta atas tetapnya dunia? Kernapa hatimu tidak cemburu, lalu kalian keluarkan dunia dan makhluk dari hatimu?

Padahal Allah Azza wa-Jalla telah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah apa yang ada pada kaum hingga mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka.”

Anda sedang bicara tetapi anda tidak melakukannya. Banyak yang sudah melakukan tetapi mereka tidak ikhlas.

Cerdaslah dirimu, jangan bikin su’ul adab pada Allah Azza wa Jalla. Kokohkan dirimu, wujudkan hakikatmu, kembalilah kepadaNya dan tafakurlah. Apa yang ada padamu di dunia ini tak ada manfaatnya di akhirat. Karena anda sendiri pelit pada diri sendiri, padahal jika anda dermawan pada jiwa sendiri, pasti anda sukses meraih manfaat akhirat. Sementara anda malah sibuk dengan sesuatu sirna, dan anda kehilangan yang kekal.

Karena itu jangan sampai anda disibukkan dengan harta, isteri-isteri dan anak-anak, karena dalam waktu dekat kalian terhalang dengan mereka.

Janganlah anda sibuk sekali dengan memburu dunia, sibuk mencari kehormatan dari makhluk, karena keduanya sama sekali tidak berarti di mata Allah Azza wa Jalla. Hatimu justru najis dengan kemusyrikan, penuh dengan keraguan kepada Allah Azza wa Jalla, penuh prasangka padaNya dalam perilaku jiwamu. Ketika Allah mengetahui dirimu, Allah marah padamu, dan anda dilempar jauh dari hati orang-orang yang saleh.

Sebagian Sufi – semoga Allah melimpahkan rahmatNya – ada yang tidak pernah keluar rumah, kecuali dengan mata terpejam, yang dituntun oleh anaknya. Ketika ditanya kenapa demikian? “Sampai aku tidak pertemu dengan orang yang kafir pada Allah Azza wa Jalla…”.

Suatu hari ia keluar rumah dengan mata yang dicelak, lantas ia bias melihat, malah ia pingsan. Betapa dahsyatnya kecemburuannya Allah Azza wa Jalla, bagaimana seseorang bisa menyembah selain Allah Ta’ala dan musyrik? Bagaimana seseorang memakan nikmatNya sementara ia juga kufur padaNya? Anda sendiri juga tidak sadar bagaimana anda berpesta dengan orang kafir dan duduk bersama mereka, sedang dalam hatimu ada iman tapi tak merasakan cemburunya Allah Azza wa Jalla.

Kalian mesti taubat, mohon ampun, dan malu kepadaNya. Lepaslah pakaian yang tak tau malu di hadapanNya, jauhilah keharaman dunia, kesyubhatannya, lalu jauhilah hal-hal yang dibolehkan ketika anda meraihnya dengan penuh ambisi hawa nafsu dan syahwat. Karena sesuatu yang anda raih dengan penuh nafsu dan syahwat, akan memalingkan dirimu dari Allah Azza wa-Jalla.

Nabi saw, bersabda: “Dunia itu penjara bagi orang beriman” (Hr. Muslim)

Bagaimana orang bertasbih bahagia dalam penjaranya? Ia tidak gembira. Hanya romannya bahagia, hatinya duka. Secara lahiriyah bahagia, sementara hatinya serasa terpotong-potong, kesendiriannya, dan akna yang dihayatinya serasa berubah jadi maksiat dibalik bajunya, dimana luka-luka hatinya tertutup oleh potongan senyum bajunya. Barulah Allah Azza wa Jalla dan para Malaikatnya bangga. Masing-masing mereka diberi isyarat dengan jari-jari pasda mereka, para ksatria di negeri agama Allah Azza wa Jalla dan di negeri rahasiaNya, sepanjang mereka bersabar bersamaNya, dan menahan kegetiran takdirNya, sampai mereka dicintai Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firmanNya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Ali Imron: 146)

Bahwa Allah azza wa Jalla membericobaan padamu semata karena cintaNya kepadamu. Sepanjang engkau melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, maka Allah semakin cinta kepadamu, dan sepanjang engkau sabar atas cobaanNya, semakin anda dekat denganNya.

Sebagian Sufi – semoga Allah merahmatinya – meriwayatkan, “Allah swt, tidak mau menyiksa kekasihNya, tetapi Allah memberi ujian dan memberikan kesabaran padanya.”

Nabi saw, bersabda: “Seakan-akan dunia itu tidak ada, dan seakan-akan akhirat itu yang senantiasa ada.” (Hr. Ali Al-Qaari, dan al-Ajluny).

Kemarilah, wahai pemburu dunia, wahai pecinta dunia, aku akan uraikan cacat-cacat dunia, dan kuberikan petunjuk Jalan Allah Azza wa Jalla, aku temukan dengan mereka yang yang hanya berhasrat menuju Wajah Allah Azza wa Jalla, karena saat ini kalian sedang stress. Dengarkan apa yang aku katakana padamu dan amalkan, serta ikhlaslah dalam mengamalkannya.

Bila kalian mengamalkan ilmuku dan kalian mati ketika mengamalkannya, maka Allah swt, akan meninggikan derajatmu sampai tingkat luhur (illiyyin), lantas kalian akan melihat disana, akar ucapanku dari sana, lantas kalian memanggilku dan menyalamiku dan kalian mewujudkan hakikat apa yang aku isyaratkan padaNya.

Kaumku…!Tinggalkan semua yang menimbulkan depresimu, tinggalkan rasa nyaman yang bathil, sibukkan dirimu dengan dzikrullah Azza wa Jalla. Bicaralah yang bermanfaat dan diamlah jika itu menyengsarakan jiwamu. Jika anda ingin bicara sesuai kehendakmu, maka fikirkan apa yang bakal kau katakana,. Lalu berniatlah yang tulus, baru biacara.

Di sinilah berlaku ungkapan, “Ucapan si bodoh di depan hatinya, sedangkan ucapan si alim yang berakal ada di belakang hatinya.”

Diamlah dirimu. Bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu bicara, maka Dia akan membuka ucapanmu. Jika Allah menghendaki suatu hal, Allah juga menyiapkanmu bagiNya. KesertaanNya padamu membuatmu bisu total, jika sudah demikian ucapan akan datang sendiri dariNya manakala Dia menghendakinya. Bahkan bisa saja, kebisuan itu terus menerus sampai mati. Maka berlakulah sabda Nabi saw,: “Siapa yang kenal Allah, lisannya kelu.” (Hr. Al-Khathib al-Baghdady).

Lisan lahiriyahnya kelu, sedangkan batinnya kelu dari segala hal selain Allah swt. Maka segalanya berserasi tanpa kontra, karena mata hatinya buta dari selain memandangNya. Batinnya terkoyak dan masalahnya terhanguskan, hartanya tercerai berai, lalu ia keluar dari eksistensinya, keluar dari dunia dan akhiratnya, bahkan nama dan tandanya pun tiada.

Allah swt. Berfirman:”Kemudian jika Allah berkehendak, maka Dia membakitkan kembali.” (‘Abasa: 22)

Allah Azza wa Jalla mewujudkan setelah tiada, diciptakan kembali sebagai makhluk, yang dihanguskan oleh hasta fana’, lalu dikembalikan pada Hasta Baqa’ agar meraih Pertemuan, kemudian dikembalikan agar mengajak makhluk dari kefakiran menuju KemahacukupanNya. Kecukupan adalah cukup bersama Allah Azza wa Jalla dari aktivitas hatinya dengan mendekatkan diri padaNya Azza wa Jalla. Orang yang fakir dengan dirinya tak mampu meraih itu semua.

Siapa yang ingin cukup kaya, tinggalkan dunia dan akhirat serta seisinya, tinggalkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total. Maka secara bertahap semuanya akan keluar dari hatinya, sesuatu yang ada dan sangat hina ini. Sesuatu yang remeh di dunia ini (harta dan seluruh sisinya) hanyalah piranti bekal saja. Maka raihlah bekal itu dalam rangka berjalan menuju kepadaNya. Maka Allah akan memberimu nikmat-nikmat yang dihidangkan olehNya. Anda juga meraih petunjuk, pengetahuan, dan hidayah dari CahayaNya.

Ya Allah tunjukkan hatiku kepadaMu.
Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.

www.sufinews.com

Alhikam “Kenapa Kau Tuntut Tuhanmu?”

August 9th, 2008 by edey

_r0107kingsun200_1
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“Janganlah
kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah
dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah.”

Betapa
banyak orang menuntut Allah, karena selama ini ia merasa telah berbuat
banyak, telah melakukan ibadah, telah berdoa dan berjuang
habis-habisan.

Tuntutan demikian karena seseorang merasa telah
berbuat, dan merasa perlu ganti rugi dari Allah Ta’ala. Padahal meminta
ganti rugi atas amal perbuatan kita, adalah wujud ketidak ikhlasan kita
dalam melakukan perbuatan itu. Manusia yang ikhlas pasti tidak ingin
ganti rugi, upah, pahala dan sebagainya. Manusia yang ikhlas hanya
menginginkan Allah yang dicinta. Pada saat yang sama jika masih
menuntut keinginan agar disegerakan, itu pertanda seseorang tidak
memiliki adab dengan Allah Ta’ala.

Sudah sewajarnya jika kita
menuntut diri kita sendiri, karena Allah tidak pernah mengkhianati
janjiNya, tidak pernah mendzalimi hambaNya, dan semua janjinya tidak
pernah meleset. Kita sendiri yang tidak tahu diri sehingga, kita mulai
intervensi soal waktu, tempat dan wujud yang kita inginkan. Padahal itu
semua adalah Pekerjaan Allah dan urusanNya.

Orang yang terus
menerus menuntut dirinya sendiri untuk Tuhannya, apalagi menuntut adab
dirinya agar serasi dengan Allah Ta’ala, adalah kelaziman dan
keniscayaan. Disamping seseorang telah menjalankan ubudiyah atau
kehambaan, maka si hamba menuruti perilaku adab di hadapanNya, bahwa
salah satu adabn prinsipalnya adalah dirinya semata untuk Allah Ta’ala.

Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:

Ketika Allah menjadikanmu sangat sibuk dengan upaya menjalankan
perintah-perintahNya dan Dia memberikan rezeki, rasa pasrah total atas
Karsa-paksaNya, maka sesungguhnya  saat itulah betapa agung anugerahNya
kepadamu.”

Anugerah paling agung adalah  rezeki rasa pasrah
total atas takdirNya yang pedih, sementara anda terus menerus
menjalankan perintah-perintahNya dengan konsisten, tanpa tergoyahkan.
Wahb ra, mengatakan, “Aku pernah membaca di sebagian Kitab-kitab Allah terdahulu, dimana Allah Ta’ala berfirman:
“Hai
hambaKu,  taatlah kepadaKu atas apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan
jangan ajari Aku bagaimana Aku berbuat baik kepadamu.

Aku
senantiasa memuliakan orang yang memuliakan Aku, dan menghina orang
yang menghina perintahKu. Aku tak pernah memandang hak hamba, sehingga
hamba memandang (memperhatikan) hakKu.”

Syeikh Abu Muhammad bin
Abdul Aziz al-Mahdawi ra, mengatakan, “Siapa pun yang dalam doanya
tidak menyerahkan dan merelakan pilihannya kepada Allah Ta’ala, maka si
hamba tadi terkena Istidroj dan tertipu. Berarti ia tergolong orang
yang disebut dengan  kata-kata, “Laksanakan hajatnya, karena Aku sangat
tidak suka mendengarkan suaranya.”. Namun jika ia menyerahkan
pilihannya pada Allah Ta’ala, hakikatnya ia telah diijabahi walau pun
belum diberi. Amal kebaikan itu dinilai di akhirnya…”

www.sufinews.com

Hati ( Qalb ) Bagian 3

April 23rd, 2008 by edey

_r9807infinitejourney200_3_1
Salah Faham Antara Hati Dan Nafs

Orang awam cenderung
mengacaukan hati dengan nafs. Ketika seseorang berkata, "Ini keinginan
hatiku untuk…", bukanlah hati yang memiliki keinginan; segala
keinginan berasal dari nafs. Ketika seseorang berkata, "Permohonan ini"
atau "jangan memohon kepada hatiku," itu bukanlah hati melainkan nafs
yang menerima dan menolak hal itu; hati sudah berada di luar penerimaan
ataupun penolakan.

Ketika seseorang berkata, "Hatiku mengatakan
bahwa sesuatu akan terjadi" ini menunjukkan bahwa hati dipengaruhi oleh
nafs. Hati yang sempurna mampu melihat sesuatu yang akan terjadi
ataupun yang telah terjadi; dia tidak perlu ramalan atau kekuatan
karamah.
Hati seorang yang memiliki hati tidaklah mempunyai
keinginan. Ini diperlihatkan dalam cerita seorang pertapa ketika
ditanya tentang apa yang diinginkan hatinya. Dia menjawab, "Hatiku
sudah tidak memiliki keinginan lagi." Dalam sebuah doa dari ibadah
ibadahnya sehari hari (shalat), Bayazid mengemukakan, "Tuhan, Engkau
tahu apa yang kuinginkan." Ini hati yang Rasulullah mengatakan, "Hati
dari orang yang beriman. tertambat di antara dua jari kemurahan hati;
Dia mengubahnya sebagaimana yang Dia kehendaki."

Ketidaksadaran, Kesadaran Diri Dan Kesadaran Hati
Manusia dapat digolongkan ke dalam tiga kategori berkenaan dengan sifat kebendaan, nafs dan hatinya:
Kategori
pertama adalah manusia yang tidak sadar, yang hidup pada maqam sifat
sifat kebendaan dan hanya memikirkan makan, tidur dan aktivitas
seksual. Inilah jenis yang disebut sebagai manusia primitif atau
manusia yang tidak memiliki peradaban.

Kategori kedua adalah
manusia dengan kesadaran diri, yaitu mereka yang hidup pada maqam nafs
dan menikmati semua karakter di atas, makan, tidur dan aktivitas
seksual, disertai dengan ambisi, sikap yang mementingkan diri sendiri
dan keinginan untuk mencari kekuasaan, yang semuanya berasal dari cinta
diri sendiri dan keakuan diri. Inilah jenis yang disebut sebagai
manusia yang memiliki peradaban.

Kategori ketiga adalah manusia
dengan kesadaran hati, yaitu mereka yang berada pada tingkat
perkembangan hati, yang telah terbebas dari egonya. Mereka adalah
orang-orang pilihan, memiliki hati, dan telah lewat dari kesadaran akal
sampai ke pandangan hakikat benda benda.
Bila berbicara tentang
sejarahnya, orang bisa saja menyamakan ketiga kategori ini menjadi
zaman kehidupan manusia yang berurutan. Dalam hal ini, zaman sekarang
dapat digambarkan sebagai zaman kesadaran diri. Akan membutuhkan
beberapa abad lamanya bagi manusia untuk memasuki zaman kesadaran hati
dan membangun surga yang dijanjikan di dunia ini. Walaupun anggapan
seperti ini tidak lebih dari sekadar harapan, namun harus tetap kita
pikirkan pengendalian yang konstan dari jiwa manusia yang berkembang ke
arah kesempurnaan.

Hati Yang Mati
Ketika Hasan Basri
ditanya mengapa kata-katanya tidak mampu membangkitkan hati para
muridnya yang sedang tidur, dia menjawab, "Jika memang hati mereka
tertidur, akan bangun ketika dibangunkan, namun hati mereka adalah hati
yang mati! Bagaimanapun seseorang mengguncang guncangkannya, hati
mereka tetap tidak akan bangkit!" (TA 33).

Malik bin Dinar
berkata, "Aku bertanya pada Hasan apa akibat yang akan terjadi dari
keterlibatan dengan dunia, dan dia menjawab, ‘Kematian hati.’ Kemudian
aku menanyakan apa ‘kematian hati itu’, dan dia menjawab, ‘Cinta pada
dunia’." (TA 37)
Al Kharaqani berkata, "Hati yang mengandung apa pun selain Allah - sekalipun itu ibadah - adalah hati yang mati." (TA 697)

Hati yang dibangkitkan
Rabi’ah
berkata, "Wahai anak Adam, tak ada jalan antara mata dan Allah, tak ada
jalan masuk kepada-Nya dengan lidah; pendengaran orang-orang yang mau
mendengar akan menegang, dan tangan serta kaki hanyalah kemudi dari
kebingungan. Tugas itu adalah untuk hati sendiri. Berjuanglah untuk
mendapatkan yang bangkit, karena apabila hati bangkit, seseorang tidak
perlu lagi dicintai, karena hati yang bangkit adalah hati yang lebur di
dalam Allah, dan siapa saja yang sedemikian lebur tidak perlu lagi
dicintai. Inilah kefanaan diri dalam Allah." (TA 81)

Pendapat Syeikh Sufi Tentang Hati
Bayazid berkata, "Pengerutan hati terjadi dengan adanya pengembangan nafs, dan demikian juga sebaliknya." (TA 196)
Fudhail ‘Iyadh berkata, "Ada dua karakter yang dapat memburukkan hati: yaitu terlalu banyak tidur dan makan." (TA 99)
Ibrahim
bin A’dham berkata, "Pintu tertutup bagi hati yang tidak pernah hadir
dalam tiga kegiatan berikut: membaca Al Qur’an, mengerjakan dzikir, dan
shalat." (TA112)
Dhun Nun al-Misri berkata, "Ada empat gejala dari
hati yang tidak sehat, yaitu: tidak mendapatkan kenyamanan dalam
beribadah, tidak takut kepada Allah, tidak pernah memperhatikan
nasihat, dan tidak memahanmi pengetahuan yang diajarkan kepadanya." (TA
152)

www.sufinews.com

Hati ( Qalb ) Bagian 2

January 10th, 2008 by edey

_r9807infinitejourney200_3
Oleh: Dr. Javad Nurbakhsy

Mengapa Jantung Spiritual Disebut Hati

Hati yang dimaksud oleh para Sufi bukanlah organ jasmani dengan nama itu. Jantung jasmani adalah sepotong daging yang terletak di sebelah kiri tubuh di bawah tulang rusuk. Alasan pemakaian istilah hati untuk menggambarkan jantung spiritual adalah karena hubungannya dengan jantung jasmani.

Jantung jasmani berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur perubahan perubahan antara darah arteri atau darah yang bersih dan darah vena atau darah yang kotor. Hati spiritual juga berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur arus bolak balik antara pengaruh ruh yang bersih dan pengaruh nafsu yang kotor. Inilah tempat hati mendapatkan nama Arabnya, qalb, dari akar kata q-l-b, yang berarti memutar atau mengganti.
Jantung jasmani memberikan darah kepada pembuluh pembuluh arteri dan menerima darah kotor dari pembuluh vena; ini sangat penting untuk proses pemurnian tubuh manusia. Demikian juga, hati spiritual menerima perangai perangai yang kotor dari nafsu dan membersihkannya dengan bantuan ruh, yang akan mengubahnya menjadi perangai perangai karakter spiritual, untuk memelihara kehalusan jiwa seseorang. Pada dasarnya, hati merupakan titik tengah antara realita jiwa yang bersih dan karakter nafsu yang kotor.

Sebagaimana kehidupan jasmani dari setiap orang berhubungan dengan jantung jasmani, sehingga jika jantung itu rusak maka orang tersebut akan sakit, atau jika jantung itu berhenti bekerja maka orang tersebut akan mati, demikian juga kehidupan spiritual setiap individu berhubungan erat dengan hati spiritual, sehingga jika hati ini menjadi sakit karena pengaruh karakter karakter nafsu, orang menjadi bersikap buruk, dan jika hati ini menjadi dikendalikan sepenuhnya oleh nafsu, maka kehidupan spiritual dari individu akan berhenti.

Jantung jasmani merupakan sebuah tempat pertukaran antara pembuluh vena yang membawa darah kotor dan pembuluh arteri yang membawa darah bersih yang kaya dengan oksigen, yang merupakan udara bersih paru paru, pernapasan. Hati spiritual juga demikian, merupakan sebuah tempat pertukaran antara kekuatan kekuatan nafsu yang kotor dan kekuatan-kekuatan ruh yang bersih, pernapasan spiritual. Jantung jasmani disebut demikian karena lokasinya yang relatif terpusat dalam tubuh. Dengan cara yang sama, hati spiritual disebut demikian karena dalam proses penyempurnaan jiwa individu dia memainkan peranan pada titik tengah antara nafsu dan ruh.

Seperti jantung jasmani mempertahankan fungsi tubuh yang senantiasa berlangsung terus menerus melalui kerjanya yang terus menerus dan secara spontan, hati spiritual secara terus menerus mengatur temperamen dan perbuatan perbuatan psikologis. Jantung jasmani mengatur tubuh jasmani, sedangkan hati spiritual mengatur jiwa.

Hati spiritual disebut qalb karena peralihannya melalui tahap tahap dari beberapa kea daan dalam proses perkembangan menuju ke arah kesempurnaan. Keadaan keadaan yang dimaksud itu merupakan anugerah dan hal-hal yang dianugerahkan oleh Allah tidaklah terbatas jumlahnya, perubahan dan perkembangan yang dilakukan seseorang dalam jalannya menuju kepadaNya, dengan semua permutasi Yang Maha Indah dan Yang Maha Berkehendak, bervariasi secara tidak terbatas. (MH 97)
Hati disebut qalb karena merupakan bagian perwujudan dari aspek aspek Allah yang berbeda beda, yang menggambarkan suatu aspek yang berbeda pada setiap saat, yang beralih (munqalib) dari Sifat ke Sifat. Hati ini juga beralih antara aspek hati yang berhubungan dengan Allah dan aspek hati yang berhubungan dengan makhluk. Yaitu, dia menerima anugerah dari Allah dan menyampaikannya kepada makhluk. (SGR 4)

Hati adalah tempat
Perwujudan Tuhan;
Bagaimana orang dapat menyebut
sebuah hati sebagai rumah setan?

Pergi dan buanglah
benda benda jasmani itu
Yang kausebut sebagai hati
kepada anjing anjing!
(Nurud Din Isfarayini-KAM 137)

Tidak Semua Orang Memiliki Hati
Perlu dicatat bahwa di antara semua makhluk yang diciptakan, hanya manusia yang memiliki hati spiritual.
Namun demikian, dari sudut pandang perkembangan jiwa, sebagian besar manusia mengalami perkembangan tidak lebih dari maqam dari sifat materi (tab’) atau nafsu. Hanya segelintir manusia yang telah mencapai tingkat perkembangan hati yang dapat dikatakan bahwa mereka memiliki sebuah hati.
Menurut Al Qur’an: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat peringatan bagi orang orang yang mempunyai hati." (L: 37).

Wahai hati, duduklah dengan orang
yang mengenal hatinya;
Pergilah ke bawah pohon
yang memiliki bunga bunga segar.

Hati yang sebenarnya sedemikian rupa sehingga bahkan dalam keadaan malapetaka sekalipun Engkau benar benar tidak akan menemukan apa apa di dalamnya selain Allah. (Rumi)

Hati Yang Hidup dan Hati Yang Mati
Hati adalah sebuah medan peperangan antara tentara ruh atau karakter karakter spiritual serta berbagai temperamen yang terpuji, di satu sisi, dan tentara nafsu atau karakter karakter nafsu dan berbagai temperamen tercela, di sisi yang lain. Jika hati jatuh ke dalam pengendalian nafsu dan sifat sifatnya, maka hati menjadi mati, sedangkan jika hati terisi dengan sifat sifat spiritual dan kemanusiaan, hati akan hidup, dan seseorang yang memiliki hati demikian disebut shahib al qalb (yang memiliki hati) dan dikenal sebagai orang yang berhati (ahl al qalb).

Kebanyakan hati manusia berada dalam keadaan fluktuasi antara hati yang mati dan hati yang hidup, walaupun sebagian besar lebih cenderung ke arah hati yang mati, sementara hanya sedikit jumlahnya yang cenderung ke arah hati yang hidup.

Ketika seseorang bertanya kepada Junaid bilamana hati benar benar berisi, dia menjawab, "Apabila hatinya itu adalah hati yang sebenarnya." (TA 428)

( Bersambung.. )

Hati ( Qalb ) Bagian 1

January 7th, 2008 by edey

_r9807infinitejourney200_2
Oleh: Dr. Javad Nurbakhsy

Jadilah manusia hati,- atau paling tidak menjadi muridnya.
Jika tidak, engkau hanya berjalan di tempat, bagaikan keledai terperangkap lumpur.
Jika tak punya hati, manusia tak punya guna;
Dalam kesengsaraan, ia akan dikenal dunia.

Apabila nafsu telah mencapai tingkat kesempurnaan, dia akan sampai pada tingkat perkembangan hati.
Pada
kenyataannya, nafsu yang tenang adalah hati yang paling dalam, yang
oleh para filosof di sebut sebagai nafsu rasional (nafis al natiqa).
Namun demikian, sebagian besar manusia masih berada pada maqam sifat
sifat kebendaan (tab’), tingkat nafsu, dan belum memiliki hati.
Hati
adalah sebuah tempat antara wilayah Kesatuan (ruh) dan daerah
keanekaragaman (nafsu). Jika hati mampu melepaskan selubung nafsu yang
melekat padanya dia akan berada di bawah pengaruh ruh; itulah yang
dikatakan telah menjadi hati dalam makna yang sebenarnya, telah bersih
dari segala kotoran keanekaragarnan. Sebaliknya, jika hati dikuasai
oleh nafsu, dia menjadi keruh oleh kotoran keanekaragaman nafsu.
Ruh
adalah sumber semua kebaikan, dan nafsu adalah sumber semua kejahatan.
Cinta menjadi tentara ruh, dan hasrat membentuk tentara nafsu.
Ruh
mewakili keberhasilan melalui Allah, sedangkan nafsu mewakili kegagalan
melalui Allah juga. Hati terletak antara keduanya, dan pemenang dari
keduanya akan mengendalikan hati.

Bila cinta memanggil hati
untuk datang kepadanya,
Hati akan terbang lepas
dari semua makhluk ciptaan.
(Rumi)

Hati
adalah tempat dari semua pengetahuan dan kesempurnaan ruh serta tempat
terlihatnya penyingkapan Perwujudan Ketuhanan melalui tingkat Esensi
yang berbeda beda. Inilah aspek yang memberinya istilah Arab qalb, yang
menunjukkan kedudukan tengah antara nafsu dan ruh. Hati membentuk
jembatan antara keduanya, yang mewujudkan kesempurnaan dari kedua
tingkat yang mengapitnya, yang mendapatkan karunia dari ruh dan
menyebarkannya kepada nafsu.
Cangkir yang menggambarkan dunia
adalah hati dari orang yang sempurna
Cermin yang merefleksikan Allah pada kenyataannya adalah hati yang dalam. (SGR3)

Tanah asal Adam diciptakan terolah dengan embun kasih sayang; akibatnya, ratusan kesengsaraan dan kekacauan terlihat di dunia.
Pisau cinta
menusuk pembuluh ruh.
Setetes yang jatuh,
lahirlah hati
(Majdud Din Baghdad)

Dalam komentarnya tentang Fushush al Hikam, jami’ menulis:
"Hati
adalah haqiqat yang meliputi haqiqat-haqiqat kejasmaniahan serta indera
indera pembentuk fisik di satu sisi, dan haqiqat spiritualitas serta
karakter karakter nafsu, di sisi yang lain."

Dalam terminologi
Sufi, hati menggambarkan substansi spiritual yang terletak antara ruh
dan nafsu, yaitu suatu substansi yang merupakan tempat terwujudnya
sifat-sifat kemanusiaan. Para filosof menyebut substansi tersebut
dengan nafsu rasional, dan menganggapnya sebagai pelengkap nafsu
hewani. (KF 1170)

Dalam wilayah ini,
hati adalah raja;
  Pada jalan menuju langit tertinggi,
  hati adalah pintunya.
Badan bukanlah apa apa,
esensi seseorang adalah hati;
  Penghuni "antara dua jari"
  Allah adalah Hati.
Dia mampu berperan
sebagai agama ataupun keingkaran;
Dia dapat berputar dari kebajikan dan keburukan.

Engkau pernah mendengar cerita tentang piala Jamsyid yang sering  diceritakan kembali,
Dan dalam cerita itu engkau mendengar sumur yang penuh, sebagai barang yang berharga sekaligus sia sia.
Sadarlah bahwa cangkir Jamsyid itu adalah hatimu sendiri,
Hatimu itulah yang telah membentuk sandaran maupun kesedihan.
  Jika engkau mempunyai keinginan untuk melihat dunia,
  Engkau bahkan akan mampu melihat semua hal di dalam hatimu.

Semak semak bunga mawar telah ditanam dengan harapan tumbuhnya tunas tunas bunga mawar hati.
Ketika
belukar mawar menghasilkan kuncup-kuncup bunga segar mawar hati,
terselubung dalam tunas itu kelopak kelopak yang penuh daya cipta, baik
partikular ataupun universal.
  Indahnya keindahan adalah tanda karunia Nya;
  Alam kehidupan ruang dan waktu adalah catatan keanekaragaman Nya.
Alam dan apa yang di dalamnya,
Apa saja yang disebut hikmah yang membentuk dunia Nya
Akan hilang dalam hati, Semuanya kecuali yang setetes
dalam hati, Laut Merah.

Bagaimana engkau dapat mengukur apa yang berada di dalam Allah?
Hati yang terletak di dalam selubung badan yang utama bagi kehidupan dan kematian.
  Perwujudan rahasia rahasia ketuhanan dan refleksi cahaya cahayanya,
  Terletak tidak di dalam hati jasmani tapi dalam hati yang sesungguhnya.

Andai hati hanyalah sebuah benda dari tanah, maka tak ada perbedaan
Antara hati ini dan hati keledai.
Berapa lama engkau akan merasa bangga dengan benda yang terbuat dari tanah ini?
Keledai juga memiliki bagian tubuh seperti ini.

Siapa saja, yang mirip seekor keledai, bangga dengan bagian tubuh ini,
Telah mengganti sebuah mutiara yang berharga untuk sebuah manik dari tanah.
Engkau harus tunduk, kepada seseorang yang berhati seperti lautan
Andai engkau ingin menemukan hati bagaikan mutiara.
Engkau harus mencari naungan di sisi sang guru,
Andai engkau ingin mendapatkan sebuah hati darinya.
Hatimu adalah telur
dari seekor burung kecil;
Tak ditemukan jejak jejak perpindahan,
dari penerbangan yang berasal dari dalamnya.
Untuk mendorongnya, membuatnya bisa terbang,
Berikanlah telur itu kepada sang guru, yang akan menetaskannya.

bersambung..

Al-Hikam “Jangan Biarkan Hatimu Mati”

December 24th, 2007 by edey

_r0109communion200_2
“Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa
susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak
menyesali perbuatan dosa anda.”

Hati yang mati disebabkan
oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang
tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati.
Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi
Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan
kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan
sifat-sifat tercela lainnya. Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan
pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal:
Manusia semakin
lari dari Allah, atau dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk
kepentingan hawa nafsunya, atau yang terakhir dia dibuka hatinya oleh
Allah melalui HidayahNya.

Ibnu Ajibah menyimpulkan dari al-Hikam di atas, bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal:
1. Mencintai dunia,
2. Alpa dari mengingat Allah,
3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.

Sebaliknya faktor yang menyebabkan hati hidup, juga ada tiga:
1. Zuhud dari dunia
2. Sibuk dizikrullah
3. Bersahabat dengan Kekasih-kekasih Allah
Sedangkan tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:

  1. Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah.
  2. Tidak menyesali dosa-dosanya.
  3. Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.
  4. Kenapa
    demikian? Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda
    kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan
    tanda kecelakaan hamba. Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman
    maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati
    menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah. Yang membuatnya gembira
    adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.
    Boleh saja anda mengatakan:
    Jika
    seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda
    bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan
    Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.

    Jika
    seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah
    menurunkan amarahNya. Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan
    sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana
    yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.
    Rasulullah
    saw, bersabda, “Orang yang beriman adalah orang yang digembirakan oleh
    kebajikannya, dan dideritakan oleh kemaksiatannya.”

    Soal Respon Terhadap Dosa
    Namun,
    Ibnu Athaillah mengingatkan, agar dosa dan masa lalu, jangan sampai
    membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan
    kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus
    menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang
    hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.

    Kebesaran
    ampunan Allah tidak bisa didilampaui oleh seluruh dosa-dosa hambaNya.
    Ampunan Allah lebih agung, lebih besar dan lebih kinasih, pada hambaNya
    yang bertobat. Karena itu Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah
    mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.”
    Oleh sebab itu jangan sampai perbuatan maksiat itu membuat hamba-hamba Allah menjadi Su’udzon kepada Allah.

    “Dosa besar apa pun, jangan sampai menghalangi Husnudzon (baik sangka) anda kepada Allah.”

    Wacana
    ini sekaligus mengingatkan kita pada pembuka kitab Al-Hikam, “Diantara
    tanda-tanda bergantung atau mengandalkan amal adalah rasa pesimis
    kepada rahmat Allah ketika sang hamba berbuat dosa.”
    Jika anda masih
    mengandalkan amal, bukan mengandalkan Allah, berarti anda akan pesimis
    jika kesalahan menimpa anda. Padahal kita harus menggantungkan diri
    pada Allah, mengandalkan Allah, bukan mengandalkan amal. Karena
    mengandalkan amal, bisa menciptakan rasa arogansi spiritual, dengan
    merasa paling banyak beramal dan taat, kemudian merasa paling benar,
    paling dekat dengan Allah.

    Dalam soal harapan dan ketakutan, biasanya hamba terbagi menjadi tiga golongan;

    1. Golongan pemula, biasanya terliputi oleh rasa khawatir dan takut, dibanding dorongan harapan.
    2. Golongan menengah, biasanya seimbang natara harapan dan ketakutannya.
    3. Golongan yang sudah sampai kepada Allah, lebih didominasi rasa harapan yang optimis kepada Allah.

    Inilah
    yang tergambar pada saat gurunya Al-Junaid, Sarry as-Saqathy dalam
    kondisi Maqbudl (terhimpit oleh suasana ruhaninya dalam Genggaman
    Allah). “Ada apa gerangan wahai paman?” Tanya Junaid. “Oh, anakku, ada
    seorang pemuda datang kepadaku, kemudian bertanya padaku, “Apakah
    hakikat taubat itu?”. Aku jawab, “hendaknya engkau tidak melupakan
    dosa-dosamu…”. Tapi pemuda itu mengatakan sebaliknya, “Tidak. Tapi
    justru hendaknya engkau melupakan dosa-dosamu..” Lalu pemuda itu keluar
    begitu saja.
    Kemudian al-Junayd menegaskan, “Ya, menurutku yang
    benar adalah kata-kata si pemuda tadi. Karena itu jika aku berada di
    musim panas, lalu mengingat musim dingin, berarti aku berada di musim
    dingin.”
    Pandangan As-Sary, benar, bagi para pemula. Sedangkan pandangan al-Junaid untuk mereka yang sudah sampai kepada Allah.
    Bagaimana respon mereka yang mencapai tahap Ma’rifatullah?

    “Siapa yang ma’rifat kepada Allah maka semua dosa adalah kecil di sisi KemahamurahanNya.”

    Maksudnya,
    jika kita mengenal sifat dan Asma Allah yang Maha Murah, para hamba
    akan terus optimis terhadap ampunan Allah, karena tidak ada yang
    melebihi kebesaran dan keagungan ampunan Allah. Sampai-sampai Rasul
    Allah SAW, menegaskan dalam hadits, “Jika kalian semua berdosa, sampai
    dosa itu memenuhi langit, kemudian kalian bertobat, Allah pun
    mengampuni kalian. Jika sudah tidak adalagi hambaNya yang berbuat dosa,
    lalu datang para hamba Allah yang berbuat dosa, para hamba ini pun
    memohon ampun kepada Allah, maka Allah juga mengampuni mereka….. Karena
    sesungguhnya Allah Maha Ampun lagi Mengasihi.”
    Namun, seorang hamba tidak boleh terjebak oleh ghurur, dengan alibi, mengabaikan dosa, dan menganggap enteng dosa-dosa itu.

    Hal demikian ditegaskan lagi oleh Ibnu Athaillah:
    “Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”

    Hikmah ini harus difahami di dunia ini dengan penafsiran demikian:
    Apabila
    seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah
    tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya
    jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan
    pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.
    Tak ada yang
    lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak
    ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal
    dan RahmatNya.                           

    www.sufinews.com

Budi Pekerti Mulia

December 9th, 2007 by edey

On_a_sunny_daysmall
Imam Ali Ibn Abi Tholib

  1. Budi pekerti yang mulia
    ada sepuluh: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati
    (tawadhu), cemburu jika aturan Allah dilanggar, berani, santun, sabar,
    dan syukur.
  2. Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali
    dalam tiga situasi: (pertama), tidak diketahui orang pemberani kecuali
    dalam situasi perang. (Kedua), tidak diketahui orang yang santun
    kecuali ketika sedang marah. (Ketiga), tidak diketahui sebagai teman
    kecuali ketika (temannya) sedang membutuhkan.
  3. Janganlah
    sekali kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada
    kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan
    kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
  4. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada selainmu.
  5. Semulia mulia nasab adalah akhlak yang baik.
  6. Tidak ada teman yang seperti akhlak mulia baik, dan tidak ada harta warisan seperti adab.
  7. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakuanmu terhadap mereka.
  8. Adab adalah pusaka yang terbaik.
  9. Jika engkau menyukai akhlak yang mulia, maka hendaklah engkau menjauhi segala hal yang haram.
  10. Tidak adanya adab adalah sebab segala kejahatan.
  11. Perjalanan adalah ukuran akhlak.
  12. Kasihanilah
    orang orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang orang
    kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah semua karena lamanya
    kelalaian mereka.
  13. Kemuliaan keturunan yang paling tinggi adalah akhlak yang baik.
  14. Ketakwaan adalah akhlak yang utama.
  15. Akhlak yang baik adalah sebaik baik teman.
  16. Kalau
    segala sesuatu harus dipisah pisahkan, maka dusta tetap bersama takut,
    kejujuran bersama keberanian, santai bersama keputusasaan, kelelahan
    bersama ambisi, keterhalangan bersama kerakusan, dan kehinaan bersama
    utang.
  17. Hendaklah kalian menjaga adab. Sebab, jika kalian
    raja, pasti kalian akan melebihi raja raja yang lain. Jika kalian
    penengah, pasti kalian akan dapat mengatasi (yang lain); dan jika
    kehidupan kalian miskin, pasti kalian akan dapat hidup (terhormat)
    dengan adab kalian.
  18. Pilihlah untuk diri kalian, dari setiap kebiasaan yang paling bagusnya, karena sesungguhnya kebaikan merupakan kebiasaan.
  19. Semulia
    mulia raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang
    dari kebenaran. Sekaya kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh
    ketamakan. Sebaik baik kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan
    kawannya. Dan sebaik baik akhlak yang paling dapat membantunnya dalam
    ketakwaan dan kewara’an (kehati hatian dalam beragama).
  20. Seseorang
    tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang
    mana saja dia muncul (di tengah tengah masyarakatnya)
  21. Adab adalah pakaian yang senantiasa baru.

Do’a

December 5th, 2007 by edey

_r9714200
Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman: "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan dalam kerahasiaan. " (Q.s. A A’raf: 55).
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. "(Q.s. AI-Mu’min: 60).

Rasulullah saw. telah bersabda: "Doa adalah inti ibadat. " (H.r. Tirmidzi, dari Anas bin Malik).
Syeikh
Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Doa adalah kunci bagi setiap kebutuhan. Doa
adalah tempat beristirahat bagi mereka yang membutuhkan, tempat
berteduh bagi yang terhimpit, kelegaan bagi perindu."
Allah swt. menghinakan orang yang meninggalkan doa, dengan firman Nya:
"Mereka
menggenggamkan tangannya". (Q.s. At Taubah: 67). Ditafsirkan bahwa ayat
ini bermakna, "Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka
untuk berdoa kepada Kami."

Sahl bin Abdullah menuturkan, "Allah
swt. menciptakan makhluk dan berfirman, ‘Percayakanlah
rahasia-rahasiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku.
Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka menunggulah di
depan pintu-Ku. Jika tak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan,
katakanlah kepada-Ku apa kebutuhan Mu’."

Sahl juga berkata, "Doa
yang paling dekat untuk dikabulkan adalah doa seketika,"yang maksudnya
adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang dikarenakan
kebutuhannya yang mendesak terhadap apa yang didoakannya.

Abu
Abdullah al-Makanisy berkata,’Aku sedang bersama, al-Junayd ketika
seorang wanita datang dan meminta kepadanya, ‘Berdoalah untukku agar
Allah mengembalikan anakku kepadaku, karena dia telah hilang. " Al
Junayd mengatakan kepadanya, ‘Pergilah, dan bersabarlah.’ Kemudian
wanita itu berlalu, kemudian kembali lagi meminta al-Junayd agar berdoa
lagi. Al-Junayd menjawab, ‘Pergilah dan bersabarlah.’Hal ini
berlangsung berkali kali, dan setiap, kali al Junayd mengatakan agar
wanita itu bersabar. Akhirnya wanita itu berkata, ‘Kesabaranku telah
habis. Sudah tidak ada lagi sisa kesabaranku.’Al-Junayd menjawab, ‘Jika
demikian halnya, pulanglah sekarang, sebab anakmu telah kembali.’Wanita
itu pun pulang, dan menemukan anaknya. Dia kembali kepada al-Junayd
untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang, bertanya kepada al-Junayd,
‘Bagaimana engkau bisa tahu?’Dia, menjawab, Allah swt. telah berfirman,
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan
apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.’(Q.s.
An Naml: 62)

Orang berbeda pendapat mengenai mana yang lebih
baik: Berdoa ataukah berdiam diri dan bersikap, ridha. Di antara mereka
ada sebagian yang berkata, "Doa itu sendiri adalah ibadat, sebab Nabi
saw. telah bersabda, ‘Doa adalah otak ibadat.’ Adalah lebih baik
melaksanakan apa pun yang merupakan amal ibadat daripada melewatkannya.
Disamping itu, berdoa adalah hak Tuhan atas manusia. Kalaupun Dia tidak
mengabulkan doa si hamba dan si hamba tidak memperoleh manfaat dengan
doanya, namun sang hamba telah melaksanakan hak Tuhannya, sebab doa
adalah ungkapan lahiriah kebutuhan penghambaan."

Abu Hazim al-Araj’ berkata, "Dihalangi berdoa adalah lebih menyedihkan hatiku daripada terhalangi untuk tidak dikabulkan."
Ada
orang lain yang menegaskan , "Diam dan tidak berbuat apa-apa dalam
menjalani ketetapan Tuhan adalah lebih sempurna daripada berdoa.
Bersikap ridha atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih
utama. Sehubungan dengan alasan ini, al Wasithy mengatakan, "Memilih
apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman azali adalah lebih baik
bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang."
Nabi saw.
bersabda, "Allah swt. berfirman dalam hadis Qudsi, Aku memberi kepada
orang yang terlalu sibuk mengingat-Ku hingga tak sempat berdoa, lebih
banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa. "

Ada
kelompok kaum yang berkata, "Si hamba harus berdoa dengan lidahnya,
sementara pada saat yang sama dia juga bersikap ridha, dan dengan
demikian menggabungkan keduanya itu."
Pendapat yang lebih utama
dalam hal ini adalah mengatakan bahwa waktu dan situasi itu
berbeda-beda. Dalam situasi tertentu, doa adalah lebih baik daripada
diam, yaitu sebagai perilaku adab seorang hamba. Sementara dalam
keadaan lain, berdiam diri adalah lebih baik daripada doa, yaitu
sebagai alasan etika pula. Ini hanya bisa diketahui dalam waktu, karena
pengetahuan mengenai waktu, jika seseorang mendapati hatinya condong
untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. jika dia mendapati
hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.

Benar
juga. dikatakan bahwa tidaklah patut bagi si hamba untuk tidak
mengabaikan penyaksian terhadap TuhannyaYang Maha Luhur ketika berdoa.
Dia juga harus memberikan. perhatian cermat kepada keadaan dirinya.
Jika dia mengalami kelapangan. yang meningkat dalam keadaan berdoanya,
maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika. dia mengalami semacam
kendala dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik
baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu. Jika dia tidak
mengalami yang manapun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun
meninggalkannya adalah sama saja baiknya. Jika kepeduliannya yang utama
adalah pada keadaan ma’rifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa
adalah lebih baik baginya. Dalam soal soal. yang menyangkut nasib kaum
Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap Allah,
maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tapi dalam perkara
perkara yang menyangkut kebutuhan diri sendiri, maka berdiam diri
adalah lebih baik.

Dalam sebuah hadis disebutkan, "Apabila
seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah berfirman, ‘Wahai
Jibril, tundalah memenuhi kebutuhan hamba Ku itu, karena Aku senang
mendengarkan suaranya.’ Apabila seseorang yang tidak disukai Allah
berdoa, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril, penuhilah kebutuhan hamba Ku itu,
karena Aku tak suka mendengar suaranya’."

Diceritakan bahwaYahya
bin Sa’id al Qaththan bermimpi melihat Allah swt. dan ia berkata,
"Wahai Tuhanku, betapa banyak kami telah berdoa kepadamu, tapi Engkau
tidak mengabulkan doa kami!" Dia menjawab, "Wahai Yahya, itu karena Aku
senang mendengarkan suaramu."

Nabi saw. menjelaskan:
"Demi
Dia yang jiwaku berada di tangan Nya, apabila seseorang yang dimurkai
Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, akhirnya
Allah swt. berfirman kepada para malaikat Nya, ‘Hamba Ku menolak untuk
berdoa kepada selain pada Ku, maka Aku pun mengabulkan doanya." (H.r.
Ali r.a, dan dikeluarkan oleh  al Hakim).
Al Hasan meriwayatkan dari
Anas bin Malik r.a. yang menuturkan, "Pada masa Nabi saw, ada seorang
laki laki yang berdagang antara Syam dan Madinah serta dari Madinah ke
Syam. Dia biasa bepergian, tanpa bergabung dengan kafilah kafilah demi
tawakkal kepada Allah swt. Sekali waktu, ketika dia bepergian. dari
Syam ke Madinah, seorang penyamun. mencegatnya dan berkata kepadanya,
‘Berhenti!’ Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun,
‘Ambillah. barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!’ Si
penyamun menjawab, ‘Urusan harta bukan urusanku, tapi dirimulah yang
kukehendaki.’ Maka pedagang Ali menjawab, Apa yang kau kehendaki
dariku, bukankah urusanmu itu hartaku? Ambillah barang barang itu dan
enyahlah!’ Si penyamun mengulangi apa yang telah dikatakannya. Si
pedagang berkata, ‘Tunggulah sampai aku berwudhu dan berdoa kepada
Tuhanku.’ Maka si pedagang pun bangkit, berwudhu, lalu shalat empat
rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa,
‘Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik
Arasy yang Agung, wahai Yang dari Nya segala sesuatu berasal dan kepada
Nya segala sesuatu kembali, wahai Yang Maha melakukan apa yang
dikehendaki Nya, aku memohon kepada Mu dengan cahaya Wajah Mu yang
memenuhi segenap penjuru Arasy Mu, aku memohon kepada Mu dengan
kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk Mu, dan dengan kasih
sayang Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong,
tolonglah aku!’

Diucapkannya doa itu tiga kali. Ketika dia
selesai berdoa, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang
berwarna abu abu dan berpakaian hijau dengan memegang tombak yang
terbuat dari cahaya. Ketika si penyamun melihat pengendara kuda itu,
ditinggalkannya si pedagang dan disongsongnya si pengendara kuda itu.
Ketika sudah dekat, si penunggang kuda itu menyerang si penyamun
sehingga si penyamun terlempar dari atas kudanya. Kemudian penunggang
kuda mendatangi si pedagang dan memerintahkan, ‘Bangkit dan bunuhlah
dia!’ Namun si pedagang itu balik berkata, ‘SiapaAnda? Aku tak pernah
membunuh seseorang, dan diriku tak layak membunuhnya.’ Lalu penunggang
kuda itu menuju si penyamun langsung membunuhnya. Kemudian datang pada
si pedagang, sambil memberitahu, Aku adalah seorang malaikat dari
langit ketiga. Ketika engkau berdoa untuk pertama kalinya, kami
mendengar bunyi gaduh di pintu gerbang langit. Kami berkata,’Sebuah
kejahatan telah terjadi.’ Ketika engkau berdoa untuk kedua kalinya,
pintu langit terbuka dan terlihat seberkas nyala api. Ketika engkau
berdoa untuk ketiga kalinya, jibril as. turun ke langit kami dan
berteriak, ‘Siapakah yang mau’ menolong orang yang tertekan ini?’ Aku
memohon kepada Allah swt. agar diizinkan membunuh penyamun itu.
Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahwa Allah akan memberikan kelapangan
dan pertolongan kepada siapa saja yang berdoa dengan doamu tadi pada
setiap saat yang penuh tekanan, malapetaka dan keputus asaan.’ Setelah
itu si pedagang melanjutkan perjalanannya dengan aman sampai ke Madinah
dan pergi menemui Nabi saw. serta menceritakan kisahnya kepada beliau,
juga tentang doa yang diucapkannya. Nabi saw. bersabda kepadanya, Allah
telah mengilhamimu dengan Nama-nama Nya yang paling indah, yang jika
disebutkan dalam doa, niscaya Dia akan mengabulkannya. Jika Dia dimohon
dengan Nama nama itu, Dia akan menganugerahkannya’." Di antara etika
berdoa adalah adanya kehadiran hati. Berdoa tak boleh dilakukan dengan
hati yang lalai. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. telah bersabda:
"Sesungguhnya Allah swt. tidak akan menjawab doa seorang hamba yang hatinya alpa. " (H.r. Tirmidzi dan Ahmad).

Persyaratan lain adalah bahwa makanan si hamba haruslah diperoleh secara halal. Nabi saw. menegaskan:
"Perbaikilah kerjamu, niscaya doamu dikabulkan." (H.r. Thabrani).

Dikatakan, "Doa adalah kunci bagi kebutuhan seseorang, dan gerigi kunci tersebut adalah makanan yang halal."
Yahya
bin Mu’adz mengatakan, "Tuhanku, aku seorang pendosa; bagaimana aku
bisa berdoa kepada Mu? Bagaimana aku tidak akan berdoa kepada Mu,
sedang Engkau Maha Pemurah?"

Diceritakan bahwa Musa as. berjalan
melewati seorang laki laki yang sedang berdoa dengan rendah hati kepada
Allah. Musa berkata, "Ya Allah, seandainya kebutuhannya ada dalam
tanganku, niscaya akan kupenuhi doanya. " Allah swt. mewahyukan kepada
Musa, ‘Aku lebih pengasih kepadanya daripadamu. Dia memang berdoa
kepada Ku, tapi hatinya terpaut pada domba dombanya. Sedang Aku tidak
akan mengabulkan doa seorang hamba Ku yang hatinya terpaut pada selain
Aku. " Ketika Musa mengatakan kepada orang itu apa yang diwahyukan
Allah swt. kepadanya itu, dia segera memalingkan hatinya dengan penuh
perhatian kepada Allah swt, dan urusannya pun selesai.

Seseorang bertanya kepada ja’far ash Shadiq, ‘Apa sebabnya, kita
berdoa
tetapi tidak pernah dikabulkan?" Beliau menjawab, "Itu karena engkau
berdoa kepada Tuhan yang engkau tak punya pengetahuan tentang Nya."

Saya
mendengar Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, "Ya’qub bin Layts
ditimpa penyakit yang membuat para dokter tidak berdaya. Mereka lalu
berkata kepadanya, ‘Di negeri tuan ada seorang laki laki saleh bernama
Sahl bin Abdullah. jika dia berdoa untuk tuan, niscaya Allah swt. akan
mengabulkan doanya.’ Ya’qub pun lalu mengundang Sahl dan memerintahkan,
‘Berdoalah kepada Allah untukku.’ Sahl berkata, ‘Bagaimana doaku
untukmu akan dikabulkan, sedangkan engkau berlaku zalim kepada orang
banyak di dalam penjaramu?’ Maka. Ya’qub lalu melepaskan semua orang
yang ada dalam penjaranya. Sahl lalu berdoa, ‘Ya Allah, sebagaimana
Engkau telah memperlihatkan kepadanya hinanya ketidakpatuhan kepada Mu
dengan menyembuhkan penyakitnya.’ Ya’qub bin layts lalu sembuh. Dia
mencoba memberi Sahl harta kekayaan, tetapi Sahl menolak. Seseorang
berkata kepada Sahl, jika saja engkau mau menerimanya, engkau bisa
memberikannya kepada orang miskin. ‘Beberapa waktu kemudian, saat Sahl
sedang memandangi kerikil kerikil di padang pasir, kerikil kerikil itu
tiba tiba berubah menjadi batu batu permata. Dia bertanya kepada para
sahabatnya, Apa perlunya bagi orang yang telah diberi anugerah seperti
ini, menerima harta kekayaan dari Ya’qub bin al Layts’?"

Diceritakan
bahwa Salih al Marry sering menegaskan, "Barang siapa yang gigih
mengetuk pintu, berarti sudah dekat saat terbukanya pintu itu baginya."
Rabi’ah Adawiyah bertanya kepadanya, "Sampai kapan engkau akan
mengatakan begitu? Kapankah pintu itu tertutup hingga orang terpaksa
memintanya agar dibuka?" Salih menjawab, "Seorang laki laki yang sudah
tua tak tahu akan kebenaran, dan seorang wanita mengetahuinya!"

As
Sary berkata, "Suatu ketika aku menghadiri pengajian Ma’ruf al Karkhy,
Seorang laki laki datang kepadanya dan meminta, wahai Abu Mahfudz,
berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia mengembalikan kantongku.
Kantong itu dicuri orang; isinya uang seribu dinar.’ Ma’ruf tetap diam.
Untuk ketiga kalinya orang itu mengulangi permintaannya. Kemudian
Ma’ruf menjawab, Apa yang harus kukatakan? Kukatakan, apa yang telah
kuriwayatkan dari Nabi nabi Mu dan Wali wali Mu yang suci?’ Kemudian
Ma’ruf mengembalikan kepada Nya. Tapi orang itu tetap mendesak,
‘Berdoalah kepada Allah untukku.’ Ma’ruf pun berdoa, ‘Ya Allah,
pilihkanlah apa yang paling baik baginya’."
Diriwayatkan bahwa al
Layts berkata, "Suatu ketika aku melihat Uqbah bin Nafi’ dan dia dalam
keadaan buta. Kemudian aku bertemu dengan dia lagi, sedang matanya bisa
melihat. Aku bertanya kepadanya , ‘Bagaimana penglihatanmu bisa pulih
kembali?’ Dia menjawab, bahwa dalam mimpinya ada suara berseru,
‘Katakanlah, wahai Yang Maha Dekat, wahai Yang Maha Mengabulkan, wahai
Yang Mendengarkan doaku, wahai Yang Maha Baik dalam kehendak Nya,
kembalikanlah penglihatanku.’ Kuulangi doa ini dan Allah swt. lalu
mengembalikan penglihatanku’."

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq berkata,
‘Aku menderita sakit yang parah di mataku ketika untuk pertama kalinya
aku kembali dari Marw ke Naisabur. Sudah agak lama aku tak bisa tidur.
Suatu pagi aku tertidur lelap dan kudengar seseorang bertanya kepadaku,
Tidakkah Allah mencukupi bagi hamba Nya?’ (Q.s. Az Zumar: 36). Aku
terbangun dan kudapati penyakitku telah hilang dari mataku dan rasa
sakitnya pun telah berhenti. Sesudah itu aku tak pernah lagi menderita
sakit mata lagi."

Diceritakan bahwa Muhammad bin Khuzaymah
berkata, "Aku sedang berada di Iskandariyah ketika Ahmad bin Hanbal
meninggal dunia. Aku betul betul merasa sedih, hingga aku bermimpi
bertemu dengan Ahmad bin Hanbal. Kulihat dia sedang melenggang. Aku
bertanya, wahai Abu Abdullah, gerakan apa ini?’ Dia menjawab, ‘Ini
adalah cara bergerak hamba hamba di Rumah Kedamaian.’ Aku bertanya, Apa
yang telah diperbuat Allah kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Dia telah
mengampuniku, menempatkan sebuah mahkota di atas kepalaku, dan
memberiku sepasang sandal emas untuk kupakai.

Allah berfirman
kepadaku,’Wahai Ahmad, semua ini karena engkau telah menjaga al Qur’an
sebagai firman Ku.’ Kemudian Dia berfirman, ‘Wahai Ahmad, berdoalah
kepada Ku dengan kata kata yang engkau terima dari Sufyan ats Tsaury,
yang dulu engkau ucapkan waktu engkau masih hidup.’ Maka aku pun
berdoa, ‘Wahai Tuhan semesta, dengan kekuasan Mu atas segala sesuatu,
ampunilah segala dosaku dan janganlah Engkau tanyai aku tentang sesuatu
pun.’ Kemudian Allah mempermaklumkan, ‘Wahai Ahmad, inilah surga.
Masuklah!’ Lalu aku pun masuk."

Suatu hari, ada seorang pemuda
yang memegang kain penutup Ka’bah dan berkata, "Tuhanku, tak ada
seorang pun yang mesti didekati selain Engkau, tidak pula ada seorang
perantara yang bisa disuap. Jika aku mematuhi Mu, itu adalah karena
limpahan rahmatMu, dan segala puji adalah bagi Mu. Jika aku menentang
Mu, itu adalah karena kejahilan dan kesombonganku. Engkau punya
argumentasi yang tak terbantah terhadap diriku melalui bukti Mu
terhadap diriku dan melalui ketiadaan argumentasiku terhadap Mu,
kecuali jika Engkau. mengampuniku." Kernudian dia mendengar sebuah
suara batin yang berseru, "Anak muda ini telah dibebaskan dari neraka."
Dikatakan,
"Manfaat doa adalah menampakkan kebutuhan di sisi-Nya. jika doa tidak
dilakukan, Allah swt. akan melakukan apa, yang dikehendaki-Nya."
Dikatakan
juga, "Doa awam dilakukan dengan ucapan, doa kaum zahid dilakukan
dengan tindakan, dan doa kaum ‘arifin dilakukan dengan ihwal hati."

Juga dikatakan, "Doa terbaik adalah doa yang dikobarkan dengan kesedihan."
Salah
seorang Sufi menyatakan, "Jika engkau berdoa kepada Allah swt. agar
dianugerahi sesuatu dan doamu dikabulkan maka berdoalah, siapa tahu
saat itulah memang saat dikabulkannya doamu."
Dikatakan, "Lidah kaum pemula terucap lewat doa, namun lidah mereka yang telah mencapai hakikat terbelenggu dalam kebisuan."

Ketika
al Wasithy diminta berdoa, dia menjawab, "Aku takut bahwa jika aku
berdoa, Allah swt. akan berfirman kepadaku, ‘Jika engkau memohon kepada
Ku sesuatu yang telah ditetapkan untukmu berarti engkau meragukan Aku.
lika engkau memohon kepada Ku sesuatu yang tidak ditetapkan bagimu,
berarti engkau tidak memuji Ku sebagaimana seharusnya. Namun jika
engkau bersikap ridha terhadap keputusan Ku, Aku akan memberikan
anugerah lebih dari harapanmu’."

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin
Mubarak berkata, "Sudah lima puluh tahun aku tidak berdoa, dan aku
tidak menginginkan orang lain berdoa untukku."
Dikatakan, "Doa adalah tangga bagi orang orang yang berdosa."
Dikatakan juga, "Doa adalah saling bertukar pesan. Selama kedua pihak tetap bertukar demikian, semuanya akan baik."

Dikatakan, "Orang orang yang berdosa mengucapkan doa dengan air mata."
Syeikh
Abu Ali ad Daqqaq mengatakan, "Jika seorang berdosa menangis, berarti
dia telah membuka hubungan dengan Allah swt." Tentang hal ini, para
Sufi bersyair berikut:
Air mata pemuda mengungkapkan
apa yang disembunyikan;
Nafasnya menjelaskan hati yang menyembunyikan rahasia.

Salah
seorang Sufi menyatakan, "Berdoa berarti meninggalkan dosa dosa."
Dikatakan, "Doa adalah cara, seorang pencinta mengungkapkan
kerinduannya." Dikatakan, "Diizinkan berdoa, lebih baik dari anugerah."
Al
Kattany menyatakan, "Allah swt. tidak menganugerahkan kaum beriman,
untuk mengungkapkan rasa bersalah, kecuali untuk membuka pintu
kemaafan."
Dikatakan juga, "Berdoa menyebabkan engkau hadir di
hadirat Allah swt, sedang dikabulkannya doamu menjadikan engkau
berpaling menjauh. Dan berdiri saja di pintu, lebih baik daripada pergi
dengan membawa balasan."
Dikatakan, "Doa berarti menghadap Allah swt. dengan ungkapan rasa malu."
Dikatakan, "Satu prasyarat doa adalah berturnpu pada keputusan Allah swt. bersama ridha."
Dikatakan pula, "Bagaimana engkau akan menunggu ijabah doa, sedang engkau menghalangi jalannya dengan melakukan dosa dosa?"
Seseorang
meminta kepada salah seorang Sufi agar didoakan: "Doakan aku." Dijawab,
"Engkau cukup dengan Allah swt. daripada unsur lain yang kau jadikan
perantara antara dirimu dengan Diri Nya."

Abdurrahman bin Ahmad
berkata, "Aku mendengar ayahku menceritakan bahwa seorang wanita datang
kepada Taqy bin Mukhlad dan mengatakan kepadanya, ‘Orang orang
Byzantium telah menawan anakku. Aku tak punya apa apa lagi di rumahku
selain anakku itu. Aku juga tidak bisa menjual rumahku. jika saja tuan
bisa membawa saya kepada seseorang yang bisa menebusnya, sebab saya
sudah tak tahu lagi mana siang mana malam. Saya tidak bisa tidur
ataupun beristirahat.’ Taqy berkata kepadanya, ‘Baiklah, pergilah
sampai sampai aku melihat masalah ini, Insya Allah.’ Kemudian syeikh
itu menundukkan kepalanya dan menggerak gerakkan bibirnya. Kami
menunggu beberapa saat lamanya. Kemudian wanita itu datang lagi bersama
anaknya dan berseru kepada syeikh tersebut, Anakku telah kembali dengan
selamat, dan dia punya cerita untuk tuan.’ Anaknya itu lalu
mengisahkan, ‘Saya sedang berada dalam tawanan seorang pangeran
Byzantium bersama dengan sekelompok tawanan. Sang pangeran menugaskan
seseorang untuk menyuruh kami bekerja setiap hari. Orang itu membawa
kami kembali dari bekerja setelah matahari terbenam dengan dikawal oleh
orang itu. Tiba tiba rantai yang mengikat saya terputus dan jatuh dari
kaki saya.’ Anak muda itu menyebutkan hari dan saat di mana peristiwa
itu terjadi, dan saat itu adalah persis ketika wanita itu mendatangi
Syekh Taqy saat beliau berdoa. Si pemuda melanjutkan ceritanya:
‘Pengawal memukul saya dan berteriak,’ Engkau telah memutuskan rantai
ini!’ Saya berkata, tidak, ia jatuh sendiri dari kaki saya!’ Orang itu
kebingungan dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia memanggil
teman temannya, lalu memanggil seorang pandai besi. Mereka lalu
merantai saya lagi. Tapi begitu saya berjalan beberapa langkah, rantai
itu terlepas lagi dari kaki saya. Mereka tercengang dan kemudian
memanggil para pendeta mereka. Para pendeta itu bertanya kepada saya,
Apakah engkau punya ibu?" Saya katakan, ‘Ya.’ Mereka lalu berkata, ‘Doa
ibumu telah dikabulkan. Allah swt telah membebaskanmu. Kami tak bisa
lagi merantaimu.’ Kemudian mereka memberi saya makanan dan bekal lalu
menyuruh seorang pengawal mengantarkan saya sampai ke daerah kaum
Muslimin’."

www.sufinews.com

Bangkit Dibalik Kegelisahan

November 23rd, 2007 by edey

_r0127islandof200
Rasa susah atas hilangnya ketaatan kepada Allah dengan tidak
disertai bangkit kembali kepada Allah, termasuk tanda-tanda tipudaya.

Rasa
susah adalah tersempitnya hati karena kehilangan sesuatu yang kita
cintai, atau rasa takut terhadap datangnya hal-hal yang kita benci yang
menimbulkan rasa gelisah. Seluruh ketakutan dan kekawatiran bahkan
kegelisahan itu jika menumbuhkan kebangkitan diri menuju Allah berarti
memiliki efek postif dan baik. Sebaliknya jika tidak, bahkan menikmati
kegelisahan dan romantisme atas keputusasaan, justru berubah buruk,
karena terpedaya oleh tipudaya nafsunya itu sendiri.

Banyak
orang yang mengalami krisis kejiwaan membuat dirinya tertimpa
kemalasan, kejenuhan beribadah, dengan sejumlah alasan yang diungkapkan
oleh nafsunya sendiri. Dan kegelisahan itu bisa menimbulkan putus asa
karena merasa apa yang muncul itu dari dirinya, manakala tidak
dikembalikan kepada Allah.
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan,
"Tangis itu bukanlah airmata yang meleleh, tetapi tangis sesungguhnya
adalah meninggalkan dan melupakan perkara yang ditangisi."
Berarti seseorang harus tetap menjaga semangat dan stamina bangkit kepada Allah Ta’ala.

Hal
demikian juga mengandung pelajaran bagi orang yang kehilangan
waktu-waktu taatnya, kehilangan perbuatan baiknya, jangan sampai
terjerumus dalam penyesalan yang ekstrim yang mengarah pada
kegelisahan, lalu ia kehilangan harapan kepada Allah. Jika itu terjadi
berarti kita telah masuk ke lembah tipudaya (ghurur).

Sebagaimana
di awal hikmah Ibnu Athaillah disebutkan, "Tanda-tanda seseorang masih
mengandalkan amalnya, adalah jika orang itu berbuat salah atau dosa,
maka harapannya kepada Allah berkurang.
Munculnya harapan yang minim
bisa disebabkan karena perasaan bersalah yang berlebihan, menyalahkan
diri sendiri berlebihan, lalu merasa tidak pantas lagi menghadap Allah.
Rasa tidak pantas menimbulkan semangat turun, lalu lambat laun malah
jauh dari Allah.

www.sufinews.com

Syukur

November 16th, 2007 by edey

_r0233revealingself200
Allah swt. berfirman:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu." (Q.s. Ibrahim: 7).

Diriwayatkan
oleh Yahya bin Ya’la dari Abu Khabab, dari Atha’ yang berkata, "Aku
bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya,
‘Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda
lihat pada Rasulullah. saw.!’ Beliau menangis dan bertanya, ‘Adakah
yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan? Suatu malam, beliau datang
kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau
bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata,
‘Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada
Tuhanku!’ Aku menjawab, "Saya senang berdekatan dengan Anda,’ tapi aku
mengizinkannya. Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan
berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai
menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku’
dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat
kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian
sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh. Aku
bertanya kepada beliau, ‘Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai
Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang
dahulu maupun yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah aku menjadi
seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis
sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:
‘Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan
bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan
akal.’ (Q.s. Al Baqarah: 164)."

Dengan ayat ini, Allah swt.
memiliki sifat syakur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur,
sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana
difirmankanNya, "Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang
serupa." (Q.s. Asy Syura: 40).

Dikatakan bahwa bersyukurnya
Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit,
seperti kata pepatah, "Seekor binatang dikatakan bersyukur, jika ia
mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya." Kita mungkin
dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi
kebaikan dengan mengingat ingat anugerah yang telah diberikan Nya. Jadi
bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt. adalah pujian kepada Nya
dengan mengingat ingat anugerah Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya
Allah swt. kepada hamba Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba
kepada Nya. Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt,
sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rahmat Nya kepada si hamba
dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada Nya. Syukur seorang
hamba, Pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan
dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.

Syukur dibagi
menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam
derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil
sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam
latar musyahadah dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan. Dikatakan
bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta
bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum ‘arifin bersyukur dengan
istiqamah mereka terhadap Nya di dalam semua perilaku mereka.

Abu
Bakr al Warraq berkata, "Syukur atas nikmat adalah memberikan
musyahadah terhadap, anugerah tersebut dan menjaga penghormatan."
Hamdun al Qashshar menegaskan, "Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur."
Al-junayd
berkomentar, "Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur
melihat peningkatan bagi dirinya sendiri; jadi ia sadar di sisi Allah
swt. lebih dari bagian dirinya sendiri."

Abu Utsman berkata, "Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri."
Dikatakan,
"Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada
bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang
karena Dia telah memberikan taufik Nya. Dan taufiq Nya itu termasuk
nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas
kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas
kesyukuran Anda, sampai tak terhingga."
Dikatakan, "Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan."

Al-junayd mengatakan, "Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat."
Ruwaym menegaskan, "Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu."
Dikatakan,
"Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada,
dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang
tidak ada."

Dikatakan, "Orang yang bersyukur berterimaksih atas
pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih
karena tidak diberi." Dikatakan juga, "Orang yang bersyukur
berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur
berterimakasih atas kemelaratan."
Dikatakan, "Orang yang bersyukur
berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat
bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda."

Al-junayd
menjelaskan, "Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku
sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang
sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya
kepadaku, ‘Wahai anakku, apakah bersyukur itu?’ Aku menjawab, ‘Syukur
adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat
kepada Nya.’ Ia mengatakan, ‘Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau
peroleh melalui lidahmu, nak’!" Al-junayd mengatakan, ‘Aku senantiasa
menangis mengingat kata kata as Sary itu."
Asy-Syibly menjelaskan, "Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri."
Dikatakan, "Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada."

Abu
Utsman berkata, "Kaum awam bersyukur karena diberi makanan dan pakaian,
sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna makna yang datang di hati
mereka."

Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, "Ilahi, bagaimana
aku dapat bersyukur kepacla Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri
adalah nikmat dari Mu?" Allah mewahyukan kepadanya, "Sekarang, engkau
benar benar telah bersyukur kepada Ku."

Dikatakan bahwa Musa as.
mengatakan dalam doa munajatnya, "Ya Allah, Engkau telah menciptakan
Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia
bersyukur kepada Mu?" Allah Menjawab, "Ia mengetahui bahwa semua itu
berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu
adalah syukurnya kepada Ku."
Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi
mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan. Sufi itu diminta supaya
datang, dan sahabatnya itu mengatakan kepadanya, "Bersyukurlah kepada
Allah swt.! " Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada
si Sufi, "Bersyukurlah kepada Allah swt.! " Kemudian seorang Majusi
yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol
rantainya dikenakan pada kaki sahabat, dan borgol lainnya dikenakan
pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang
berarti sahabat itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai
melepaskan hajatnya. Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya,
"Bersyukurlah kepada Allah swt.!" Sahabatnya (si Sufi) bertanya,
"Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini: Cobaan apa yang lebih
berat dari ini?" Sahabatnya menjawab, "Jika sabuk yang dikenakan orang
kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu
kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?"
Seseorang
mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, "Seorang pencuri
telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!" Sahl berkata,
"Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu
setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid, apa yang akan engkau
perbuat?".

Dikatakan, "Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa
engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan
syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau
dengar tentang dirinya."

Dikatakan juga, "Syukur adalah
menyibukkan diri dalam memujiNya karena Dia telah memberimu apa yang
engkau tidak pantas menerimanya."
Al-Junayd menuturkan, "Manakala
as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah
pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, ‘Wahai al-Junayd,
apakah syukur itu?’ Aku menjawab, ‘Syukur adalah jika tidak satu bagian
pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada Nya.’ Ia
bertanya lagi, ‘Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan) ini.’ Aku
menjawab, ‘Bersama majelis-majelis Anda’."

Diceritakan bahwa
al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat,
"Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati
aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku
bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak
bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan
kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah,
kecuali kemurahan."

Dikatakan, ‘Jika tangan mu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap syukur dengan lisanmu. "
Dikatakan
pula, "Ada empat amal yang tidak berbuah: Mempercayakan rahasia kepada
orang yang bisu, memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur,
menebar benih di tanah yang tandus, dan menyalakan lampu di bawah
cahaya matahari."

Juga dikatakan bahwa ketika Idris as.
memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang
umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab, "Agar
aku dapat bersyukur kepada Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang
hanya untuk memperoleh ampunan." Kemudian salah satu malaikat
mengembangkan sayapnya dan membawanya ke langit.

Diceritakan
bahwa salah seorang Nabi - semoga Allah swt. melimpahkan salam
kepadanya - berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air,
yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara
kepadanya, katanya, "Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman,
‘Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.’ (Q.s. At
Tahrim: 6). Aku pun menangis karena takut." Nabi itu kemudian
mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu itu dari api neraka, dan
Allah lalu mewahyukan kepadanya, ‘Aku telah menyelamatkannya dari
neraka." Maka Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali
melewati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya,
yang membuatnya heran. Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara,
dan Nabi itu lalu bertanya, "Mengapa engkau masih menangis sedangkan
Allah telah mengampunimu?" Batu itu menjawab, "Sebelumnya adalah tangis
takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira."
Dikatakan, "Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat."

Allah swt. berfirman, "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat Ku) kepadamu." (Q.s. Ibrahim: 7).
Orang
yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian
kepada Nya yang memberikan cobaan. Allah lalu berfirman, "Sesungguhnya
Allah beserta orang orang yang sabar" (Q.s. AI Anfal: 46).

Diceritakan
bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara
mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar
berkata kepadanya, "Coba, yang tua-tua dulu berbicara! " Mendengar itu
si pemuda berkata, "Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan
kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum
Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda." Maka Umar
berkata, "Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, "Kami bukanlah delegasi
yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa
takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan
kami, dan tentang soal takut, keadilan. Anda pun telah mengamankan kami
dari ketakutan." Maka Umar pun bertanya kepadanya, "Lantas, siapa
kalian ini?" Ia menjawab, "Kami adalah delegasi yang menyampaikan
syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan
sekarang kami akan pulang." Dan mereka lalu bersenandung:

Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam.
Atas apa yang telah kau lakukan,
sedangkan kebaikanmu berbicara.
Aku melihat anugerah darimu
dan aku menyembunyikan;
karenanya, di tangan yang pemurah
jadi pencuri.

Diceritakan
bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as, ‘Aku melimpahkan
rahmat kepada hamba hamba Ku: Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka
yang terampuni." Musa bertanya, "Mengapa pula terhadap mereka yang
terampuni?" Allah swt. menjawab, "Dikarenakan kecilnya syukur mereka
atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu."
Dikatakan, "Pujian itu bagi nafas, dan syukur atas nikmat nikmat anggota badan."

Dikatakan pula, "Pujian sebagai permulaan dari Nya, dan syukr sebagai tebusan darimu."
Dalam
hadis shahih disebutkan, "Yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka
yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal."
Dikatakan, "Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikanNya, dan syukur atas apa yang diperbuat oleh Nya."

www.sufinews.com